Beranda > Berita > Akankah KCI Bubar?

Akankah KCI Bubar?

Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa kalau kita punya konter handphone yang buka usaha jasa download lagu tanpa ada sertifikat KCI (Karya Cipta Indonesia) dan software komputernya tidak asli alias origonal akan menyebabkan di Gerebek Om Polisi. Nah, itu dulu. Sekarang? Kayaknya masih simpang siur juga. Sebelum berpikir yang tidak-tidak silakan baca beberapa berita dibawah yang saya ambil dari situs lain. Tentang kesimpulan silakan disimpulkan sendiri.

Kapanlagi.com – Perselisihan antara ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) dengan YKCI (Yayasan Karya Cipta Indonesia), terkait kasus Performing Rights, akhirnya dimenangkan oleh ASIRI. Atas hasil tersebut YKCI yang selama ini mengklaim sebagai yang berhak memungut royalti dari berbagai pihak diharuskan membayar denda sebesar Rp. 84.823.200.

Dalam keterangan pers di Sultan Hotel Jakarta belum lama ini, kuasa hukum ASIRI, Otto Hasibuan SH, menjelaskan bahwa tidak ada satu pun pasal dalam UU Hak Cipta No 19/2002 yang memberikan kewenangan kepada KCI untuk menagih dan memungut royalti dari semua pihak yang memakai atau mengumumkan produk rekaman suara milik atau yang berasal dari KCI.

Jadi tindakan KCI yang memungut royalti dari lagu–lagu yang diperdengarkan oleh banyak pihak seperti bar, restoran, hotel, televisi, radio, bahkan pedagang kaset, merupakan tindakan illegal dan melanggar hukum. Karena hal Performing Rights dipegang oleh label.

“Itulah sebab kenapa ASIRI menggugat KCI. Dan sesuai putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 300/Pdt.G/2007/PN.Jkt.Sel, tanggal 19 Maret 2008, KCI dihukum harus membayar ganti rugi,” jelas Otto.

KCI sendiri hanya berhak memungut royalti dari pihak–pihak yang memakai lagu ciptaan para pencipta tapi dengan syarat pencipta lagu memberikan kuasa kepada KCI. “Itu pun apabila pencipta/ pemberi kuasa tersebut belum pernah memberikan hak mengumumkan lagu ciptaannya kepada produser rekaman/label,” pungkas Otto. (kpl/tri/buj)

Republika, 21 Mei 2008
KCI Bukan Penagih Royalti
Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) bukan satu-satunya lembaga penagih royalti atas penggunaan komersial karya lagu para pencipta. Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) melalui peng – acaranya, Otto Hasibuan, SH, di Jakarta, Rabu (14/5) mengatakan bahwa tak satu pun pasal maupun ayat dalam UU Hak Cipta yang menyatakan bahwa KCI adalah satusatunya collecting society yang berhak menagih royalti atas karya lagu.

Hal itu, katanya, dikuatkan dengan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tanggal 19 Maret 2008, yang menyatakan bahwa ASIRI adalah pemilik karya rekaman suara/master rekaman ( sound recording) dan pemegang hak untuk mengedarkan, memperbanyak, mengumumkan, menjual, dan menyewakan karya rekaman suara/master rekaman berisi lagu-lagu ciptaan para pencipta. Keputusan itu terkait gugatan ASIRI kepada KCI dan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

Arnel Affandi, anggota Dewan Pimpinan ASIRI, mengatakan selama ini pihak label rekaman tidak pernah mengebiri hak dari para pencipta lagu, khususnya dalam hal royalti performing right. ‘’Bagi label, artis dan pencipta lagu adalah aset. Tanpa mereka industri ini tidak ada,’‘ katanya.

Mengenai hak yang diterima KCI dari para pencipta lagu untuk mengurus tagihan royalti, ia menyatakan lembaga itu seharusnya kembali ke khittah tujuannya saat didirikan, yakni hanya mengurus royalti atas penggunaan komersial lagu-lagu karya pencipta oleh beberapa pihak, di antaranya televisi dan radio.

‘’Kalau toko kaset dan CD ditagih juga karena memutar lagu, ini kan aneh. Bagaimana toko mau jualan kalau untuk memutar lagu dalam kaset dan CD yang dijualnya harus bayar ke KCI.’‘ katanya. ‘’Hak itu ada pada label, seperti ditetapkan oleh pengadilan dalam perkara ini.’‘

PN Jakarta Selatan dalam putusannya atas perkara gugatan ASIRI terhadap KCI dan Telkomsel, juga menyatakan perbuatan KCI yang mengaku sebagai pemegang hak cipta untuk hak mengumumkan ( performing rights) atas karya rekaman suara yang berasal dari ASIRI sebagai perbuatan melawan hukum.

Menurut Otto Hasibuan, sebenarnya lembaga seperti KCI harus ada dan diakui oleh UU demi kesejahteraan para pencipta. ‘’Sayangnya, UU Hak Cipta kita yang sekarang belum mengatur tentang itu. Karenanya, DPR harus didorong untuk segera melakukan revisi terhadapnya,’‘ katanya.

Komentar saya:
Bagi yang membuka usaha jasa donwload lagu untuk handphone pasti membutuhkan sertifikat KCI, tapi pada kenyataannya KCI sendiri masih menjadi kontroversi. Bagaimana menurut Anda? Perlu dibubarkan? Diteruskan? Diambil alih atau gimana? Silakan kasih komentar.

Kategori:Berita Tag:
  1. laguorang
    Januari 27, 2009 pukul 11:14 pm

    Kalau blog yang contentnya download lagu2 karaoke bagaimana bro? Apa perlu licensi dari kci/asiri?
    Mohon pencerahannya ya via email. Thx.

    setau saya iya, tapi itu dulu ketika KCI/ASIRI masih belum gonjang-ganjing, coba tanyakan ke koordinator KCI di kota sampeyan….. soalnya setauku sekarang KCI bermasalah…

  2. DIAN
    Februari 23, 2009 pukul 11:00 am

    salam kenal, gmna kabar status KCI skrg? soalnya banyak temen-temen yang masih bingung untuk ijin usaha jasa download lagu/mp3. mohon pencerahannya…thx

  3. tirta
    Maret 1, 2009 pukul 11:16 pm

    lalu kalau mau buka usaha jasa isi lagu/ringtones buat Handphone harusnya izinnya darimana ? soalnya bukan hanya satu kali atau satu daerah saja yang pernah mengalami “Razia Aplikasi” atau apapun istilahnya.

    kalau misalkan tidak ada asosiasi atau wadah lain yang bisa dipercaya menampung atau bisa melindungi berjalannya usaha jasa tersebut lalu harus kemana lagi ?

    sedangkan usaha itu buat nyari duit, tapi akhir-akhirnya kalau tidak ada kejelasan yang bisa dipercaya malah keluar duit banyak.

  4. reni
    Maret 31, 2009 pukul 4:39 pm

    klo qta punya counter hp yang menjual lagu2 sistem pembayarannya seperti apa? trus harus bayar kmn? ko knp kantor kci di bandung pindah sedangkan di buku panduannya tertulos buah batu? apa mungkin 1kota ada 2 kantor kci?

  5. Aswin Bahar
    September 9, 2009 pukul 7:01 am

    Saya punya konter di Semarang, sebenarnya hanya cetak foto dan tidak mengisi lagu (lagu u/ hiburan sendiri) makanya tidak ada ijin dari KCI, tapi anak2 dipancing u/ isi lagu dan kemudian CPU+BT+Infrared disita Polwiltabes Semarang. Akhirnya saya didenda 3jt rupiah oleh KCI Semarang, itu pun setelah tawar-menawar. Katanya denda semestinya 11jt rupiah (biaya keanggotaan: 5jt x 2 +10%). Terima kasih KCI atas pengurangan dendanya, semoga Allah mengganti uang saya dengan lebih banyak lagi. Amien Yaa Robbal ‘Alamin.

  6. Februari 3, 2013 pukul 1:35 am

    That is very interesting, You are an overly skilled blogger.
    I have joined your feed and look forward to seeking extra of your magnificent post.
    Also, I’ve shared your website in my social networks

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: